There was an error in this gadget

Monday, November 3, 2008

Bekerja Voluntir untuk Obama



Bekerja secara sukarela sudah merupakan kebiasaan kehidupan masyarakat Amerika. Selama satu tahun setengah tinggal di Maryland, keterlibatan komunitas untuk membantu apa saja sangat besar. Misalnya, membantu untuk kegiatan-kegiatan sekolah seperti menggalang dana untuk memperbaiki fasilitas sekolah dengan memasak kue dan menjualnya atau mengorganisasikan "fun run" dan lain sebagainya. Para orang tua pun banyak yang membentuk tim olah raga di sekitar komunitasnya agar anak-anak dapat bermain dalam tim olah raga pilihannya apakah tim olahraga basket, bola kaki dan seterusnya. Kadang saya kagum dengan sikap kerja sukarela para orang tua ini yang benar-benar berdedikasi untuk memajukan komunitasnya dan memberikan perhatian pada perkembangan anak-anaknya.




Misalnya Dwayne, tetangga saya, seorang pengacara yang sibuk luar biasa, tetap bisa meluangkan waktu untuk menjadi pelatih tim basket bagi anak-anak tetangga. Beberapa kali saya melihat Dwayne tergopoh-gopoh pulang kantor dan segera mengganti baju untuk melatih timnya yang terdiri dari anak-anak umur 7 hingga 8 tahun. Juga Anna, seorang dosen di University of Maryland yang masih meluangkan waktu untuk melatih tim bola anak-anak perempuan di komuitasnya. Tim bola asuhannya diikuti anak-anak perempuan berumur 5-6 tahun. Tim asuhannya telah menang beberapa kali melawan tim-tim lainnya dan Anna begitu bangga.




Ketika teman saya mengajak untuk voluntir membantu kampanye Barack Obama, maka saya tak kuasa menolak. Apalagi teman saya memberikan alasan mengapa penting saat ini terjun ke lokasi mempengaruhi para pemilih yang masih belum yakin dengan Barak Obama. Oleh sebab itu, saya pun di hari minggu pagi menempuh perjalan 2,5 jam ke Virginia ke daerah yang mayoritas dikuasai oleh McCain-Palin.




Kami diberikan petunjuk yang lengkap tahap-tahap yang harus ditempuh oleh relawan-relawan lainnya. Para relawan terdiri dari tua dan muda dari berbagai ras. Mereka rupanya telah bekerja sejak pukul 6 pagi. Tahap pertama, kami diminta untuk ke markas Obama di Virginia dan melaporkan diri. Di markas tersebut telah berkumpul banyak orang untuk mensukseskan Virginia untuk Obama. Virginia memang salah satu negara bagian yang bisa menentukan dan tempat yang belum pernah dimenangkan oleh Partai Demokrat. Setelah kami tanda tangan dan mengambil beberapa stiker dan pin, kami diminta untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi lain untuk mendapatkan instruksi selanjutnya.




Di tahap kedua ini, kami berkumpul di jalanan biasa dan dipandu oleh seorang direktur lapangan untuk memahami detail program-program Obama. Direktur lapangan kami seorang anak muda keturunan Afrika-Amerika yang sangat energetik dan menyenangkan. Ia datang dari California khusus bekerja sebagai relawan di Virginia. Anak muda ini sungguh berdedikasi.




Di dalam pertemuan, diskusi tentang posisi Obama dalam soal kesehatan, ekonomi, lingkungan dan isu-isu sosial seperti aborsi dibahas. Seorang relawan mengatakan bahwa ia sangat tertarik dengan program kesehatan Obama yang akan melakukan "universal health care", artinya, semua orang akan mendapatkan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma. Seseorang lagi, mengatakan bahwa lingkungan menjadi perhatian utama dia karena itu ia ingin Amerika menciptakan lapangan kerja untuk energi bersih, berkonsentrasi dalam pengembangan "green jobs". Setelah berdiskusi lama, masing-masing diberikan kertas panduan bagaimana berbicara dengan para pemilih yang masih belum menentukan pilihannya. Pertama, relawan tidak boleh memaksa orang tapi mengajak mereka berdiskusi apa kelebihan program-program Obama ketimbang McCain. Kedua, memberikan bacaan dan data-data yang mereka butuhkan tentang program Obama, ketiga bila mereka tertarik, memberikan dukungan kepada mereka untuk jangan lupa memilih Obama pada tanggal 4 November dan bila mereka tidak tertarik tetap mengucapkan terima kasih atas waktu mereka.




Setelah paham pekerjaan yang akan kami lakukan, kami diberikan map yang berisi nama-nama pemilih dan alamat-alamat mereka. Disamping nama-nama tersebut diberikan catatan-catatan dengan inisial (D) tanda selama pemilihan selalu memilih Partai Demokrat, atau (R) selama pemilihan selalu memilih Republik atau LD (condong Demokrat), LR (condong Republik, ND (belum menentukan) dan R (menolak diajak berbicara soal program Obama). Catatan-catatan tersebut berguna bagi kami agar kami bisa mengetahui "medan" yang akan ditempuh.




Saya mendapatkan tugas untuk mendatangi sekitar 36 rumah hari itu. Lokasi pertama yang saya datangi bertempat di daerah yang penuh dengan tanda Mc-Cain-Palin di halaman rumah mereka. Hati saya pun kecut. Namun begitu pintu rumah dibuka dan kata-kata saya meluncur begitu saja sambil tak lupa tersenyum manis, mereka pun kelihatan santai dan terbuka memberitahu saya alasan-alasan mereka untuk memilih McCain. Kebanyakan mereka telah melakukan riset di internet tentang posisi McCain dalam setiap program yang ia perjuangkan dan kini menimbang posisi Obama.




Saya memang mendapat tugas untuk mendatangi kebanyakan perempuan yang masih belum mau memilih Obama entah karena mereka kagum dengan Palin atau kecewa karena Hillary kalah atau memang fanatik Partai Republik. Saya selalu berusaha untuk menggiring pembicaraan ke masalah ekonomi misalnya bagaimana ekonomi AS menjadi lemah selama dipimpin Partai Republik dan bagaimana ekonomi AS sangat kuat ketika dipimpin Partai Demokrat oleh Bill Clinton. Tampaknya pembicaraan ekonomi merupakan pembicaraan yang sangat mereka perhatikan dan keluhan-keluhan ekonomi merupakan hal yang utama buat mereka.




Sebagian besar para pemilih yang didatangi di rumah-rumah mereka rata-rata menyambut kami dengan baik dan bersedia untuk diajak diskusi. Beberapa rumah memang menunjukkan ketidak senangan mereka dengan kami karena mereka tidak setuju sama sekali dengan program-program Obama. Ada beberapa orang yang melempar brosur kami dan menyuruh kami pergi. Namun, segala perlakuan kami terima dengan baik dan tetap tidak lupa mengucapkan terima kasih atas waktu dan perhatian mereka.




Pengalaman saya berbicara dengan perempuan (ibu-ibu) sangat mudah dan diskusi bisa mengalir soal pendidikan anak dan harga-harga di supermarket. Mereka lebih mau berdiskusi dan mendengarkan pendapat-pendapat kami. Keluarga yang kami datangi terdiri dari berbagai macam ras. Saya merasa keluarga Asia-Amerika sangat hati-hati dalam mengemukakan pendapat mereka tapi sangat mau untuk belajar tentang program-program Obama. Keluarga Asia-Amerika pun cendrung terbelah, orang tua lebih memihak McCain sedangkan anak-anaknya condong memilih Obama. Yang paling ramah dan ceria tentu dari keluarga ras kulit hitam yang hampir semuanya senang mengobrol dengan kami dan hampir semuanya memilih Obama. Hanya ada satu perempuan tua keturunan Afrika-Amerika yang masih ragu-ragu. Pasalnya ia merasa McCain telah terbukti berkorban untuk negaranya dan Obama masih muda dan belum ada hasil karya untuk negaranya. Maka, ia merasa lebih bertanggung jawab bila memilih McCain.




Ada pula kejadian seorang ibu dengan anak laki-lakinya bertengkar. Pasalnya si ibu memilih McCain karena McCain memilih perempuan sebagai wakil presidennya dan si anak memilih Obama karena mengiginkan perubahan dan ingin menyaksikan sejarah, Obama sebagai presiden keturunan Afrika-Amerika pertama. Pertengkaran antara si ibu dan anak sangat seru tanpa menghiraukan saya yang akhirnya pamit pulang.




Hari menunjukkan pukul 5 sore dan akhirnya tugas saya selesai. Saya kembali ke lokasi dan melapor kepada direktur lapangan kami sambil memberikan data-data yang telah kami catat. Rupanya telah berkumpul anak-anak muda keturunan dari berbagai negara seperti Cina, India, Afrika dan Amerika Latin siap menerjang malam bekerja untuk Obama. Kuping mereka rata-rata disumpal ipod dan sibuk mengecek email di HP mereka. Satu-satunya yang menandakan mereka orang Amerika adalah gaya bicara mereka yang tulen gaya Amerika. Rupanya mereka lahir dan besar di Amerika dan merasa Amerika adalah negara mereka sendiri. Kini mereka mengingkan Amerika yang merepresentasikan pluralitas, oleh sebab itu, Obama menjadi pilihan mereka. Ketika mereka tahu saya dari Indonesia, mereka tersenyum lebar dan mengatakan telah melihat di CNN sekolah Obama di Jakarta.




"Jakarta is cool man!". Saya pun tersenyum geli melihat tingkah mereka.




Angin sudah mulai menusuk di senja hari di bulan awal November, saya bergegas pulang sambil memperhatikan para relawan lainnya yang masih asyik berdiskusi politik dan tetap berjanji kembali ke lokasi esok pagi-pagi bekerja demi Obama. Saya tak tahu apakah akan kembali lagi namun yang pasti bekerja sebagai relawan untuk Obama dalam pemilihan yang sangat bersejarah ini sungguh merupakan suatu pengalaman yang tak akan terlupakan.












No comments: